Malam yang panas.
Aku berjalan terseok- seok. seorang nahkoda.
Diburitan kapal yang lambungnya tertusuk gelombang.
Jalan yang berliku tak mampu kuhela kekang lehernya.
dua puluh empat purnama di delapan penjuru angin.
Manakah yang harus kugapai?
Angin malam yang panas,
Mencerai-beraikaikan nafsuku
Malam yang semakin panas,
Susah payah kulepas kancing baju besiku
Cemeti yang melilit pundak leher kesombonganku
Sepasang kelelawar hitam terbang menghindari terang.
Wajahnya sangat kukenal namun jauh lebih belia dariku.
Seorang pencuri yang wajahnya tak asing kulewati.
Angin malam yang tergesa- gesa
panas yang membakar baju zirah-ku
Kesombongan dengan wajahnya yang angkuh.
tertawa di kegelapan sukmaku.
Angin malam yang sombong,
mencabik- cabik leher kemunafikanku.
Jalan lurus yang ke utara,
terasa begitu asing tetapi lembut memanggilku.
Keheranan. kutepis maut di sampingku.
menawarkan kedamaian yang gempita.
jalan lurus yang ke utara,
mengalunkan nyanyian suci membasuh tubuhku.
Nyanyian asing yang ke utara.
Membawaku tersujud mencumbui firman-Nya yang kiblat.
(K.G Setawijaya Aka. Ketel)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar