12.03.2010

bahasa hati (sebuah karya sampah)

Mata itu. Sepasang mata yang indah, tetapi selalu terlihat sayu sejak pertama kali Aku menatapnya. Dan sampai saat ini pun, setelah sekian lama, mata yang indah itu masih tetap seperti dulu; sayu, menarik, dan sekaligus memiliki sisi yang misterius, tetapi justru kemisteriusan yang terpancar darinya itulah yang membuatnya terlihat semakin menarik, cantik, dan sekaligus unik. si pemilik sepasang mata itu sendiri, bolehlah kusebut secara langsung bahwa orang itu seorang perempuan, seorang gadis, adalah seorang yang menarik bahkan bagiku sangat menarik. Dan apabila Ia adalah seorang lelaki mungkin aku tidak akan terlampau terpukau karena aku adalah pria normal yang masih menyukai seorang perempuan, bukan penggemar sesama lelaki seperti perilaku kaumnya Nabi Luth yang akhirnya terkena azab Tuhan di zaman dahulu itu. Apa yang membuatku berpikiran demikian, entahlah. tetapi begitulah, perasaan seperti itu datang tanpa pernah aku tahu awal dan sebabnya. Mungkin orang akan sedikit merasa heran karena sampai sekian lama antara diriku dan gadis itu belum pernah terjadi komunikasi secara langsung melalui kata-kata kecuali melalui tatapan mata yang (setidaknya bagiku) penuh arti. Tetapi, bukankah banyak filosof dan orang-orang bijak mengatakan bahwa bahasa mata dan perbuatan lebih berarti daripada serangkaian kata-kata? bahkan komunikasi akan terjalin dengan lebih bebas tanpa di cemari oleh kepura-puraan, karena rasa dan nuranilah yang mengambil alih pembicaraan. Dan apabila benar pendapat tersebut maka rasa dan nurani itu lebih jujur daripada kata-kata, karena ia di kemudikan secara langsung oleh Tuhan dan oleh karena itu selalu bersifat suci karena sang sopir adalah Dzat Yang maha memiliki segala sifat kesucian. Dan bukankah tanpa berkata-kata pun setiap manusia sebenarnya telah memahami bahasa suasana?  Dan dalam bahasa suasana, setiap orang telah dapat mengerti apa yang di harap, siapa yang mengharap, siapa yang di harap, dan buat apa harapan? Tentu saja itu hanyalah sebuah pendapat dari seorang manusia yang merupakan tempat dari segala kesalahan. Apalagi manusia itu adalah seorang bodoh bernama Ujang; mahasiswa yang bahkan tak mampu menyelesaikan pendidikannya dengan tepat waktu dan nilai yang dapat membuat bangga orang tuanya.
Aku sering mendengar pepatah lama mengatakan bahwa perasaan itu berawal dari mata, Setelah itu barulah kemudian turun ke hati. Terbukti bahwa pepatah itu benar adanya, setidaknya itulah yang terjadi padaku. Seiring berjalannya waktu, semakin sering aku menatap sepasang mata itu dan wajah manis yang membalutnya. harus kujelaskan bahwa ia tidak dikaruniai Tuhan wajah yang teramat cantik tetapi wajahnya kelihatan begitu menarik apalagi bila ia sedang tersenyum, suatu keadaan yang jarang terlihat olehku. juga tingkah polahnya yang berbeda dari orang kebanyakan memaksaku untuk mengakui bahwa gadis itu tidak sekedar cantik sebagai seorang perempuan, tetapi juga sangat menarik hatiku lebih dari perempuan manapun yang pernah kujumpai, sebagai catatan, aku bukanlah tipe orang yang gampang untuk menyukai dan bermanis-manis dengan orang lain apalagi dengan seorang perempuan, sehingga kejadian ini merupakan kejadian langka dan amat berbekas dalam perjalanan hidupku hal inilah terutama yang mampu membuat kerinduanku padanya terasa semakin membuncah. Terkadang timbul keinginan dalam hatiku untuk sekadar menyapa atau bahkan berbincang-bincang dengannya sambil menikmati tatapan matanya yang sayu dan wajah manis yang membalutnya itu. namun sayangnya aku tidak mempunyai cukup kemampuan, atau mungkin lebih mengena bila disebut dengan sedikit 'keberanian' untuk melakukannya. Mungkin dengan melihat itu orang akan dengan mudah mengatakan bahwa aku sedang di landa asmara seperti yang terjadi pada anak muda pada umumnya dan aku pun takkan menyalahkan pendapat tersebut, bahkan mungkin membenarkannya seandainya pertanyaan itu diajukan padaku beberapa waktu lalu. Tetapi sekarang aku merasa perasaan ini tidak melankolis seperti itu dan pikiran orang yang semacam itu aku anggap terlalu sederhana dan bersahaja karena sesungguhnya perasaan ini lebih luhur daripada sekedar asmara, sebab ia datang dan timbul dari nuraniku yang paling dalam sekaligus kudus. Kadangkala aku merasa gadis itu adalah saudara kandungku sendiri atau sahabat yang telah sejak lama kukenal sehingga aku seolah-olah telah mengenal segala sifatnya sampai ke butiran yang paling kecil sekalipun. Bahkan terkadang aku merasa seolah-olah gadis itu adalah ibu kandungku sendiri yang telah melahirkan, memberiku air susunya, dan melindungi serta membesarkanku dengan penuh kasih sayang sehingga aku tak akan pernah rela melihatnya disakiti.
Aku adalah seorang pemuda berusia 23 tahun, seorang mahasiswa ekonomi sebuah universitas swasta yang masih menggantungkan hidupku pada pemberian dan harta orang tuaku, sehingga aku tidak atau belum memiliki sesuatu yang dapat kubanggakan selain keyakinan yang itupun kurasakan semakin memudar dan bahkan mungkin akan segera lenyap dari alam pikiranku suatu saat nanti. Keyakinan yang telah tumbuh dan mengendap  dalam diriku itu adalah bahwa hubungan antara manusia adalah suatu bentuk ketidakmampuan seseorang dan seseorang itu pasti tidak akan mampu menjalani masa hidupnya dengan kemampuannya sendiri. Nah, setelah aku mengenal atau dan mengalami suatu perasaan yang bagiku teramat aneh dengan gadis itu, keyakinan yang lama mengendap dalam diriku itu perlahan memudar.
Sampai hari ini, tanpa kuduga keadaan telah telah memberikan jalan padaku untuk saling berkata-kata dengannya walaupun hanya sesaat, tapi terbukti perbincangan singkat itu mampu memberikan perubahan yang luar biasa pada diriku. Hal itu terlihat nyata pada tingkah polahku yang semakin bersemangat dalam mengikuti kuliah atau roman wajahku yang selalu terlihat berseri-seri dan memancarkan kebahagiaan kepada semua orang tak terkecuali orang yang tak aku sukai, Itu menurut pendapat teman-temanku sendiri yang keheranan melihat perilaku yang berkebalikan dengan sifatku sendiri yang mereka sebut pemalas sejak aku masuk bangku perkuliahan dan rekor pertemananku yang tak dapat dikatakan baik karena seperti sudah kusebutkan, bahwa aku bukanlah tipe orang yang suka bermanis-manis dalam ucapan maupun dalam tingkah lakunya. Ah, lihatlah bagaimana nurani telah memberikan perubahan pada diri yang selalu murung dalam waktu teramat singkat, salah satu bukti  kekuasaan Sang Maha pengasih kepada mahluknya. 

                                                                                                           bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar