Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

10.14.2011

Urbanisasi, modernisme, dan pergeseran nilai moral



Mudik, tradisi ini mungkin hanya ada di sebuah negara bernama Indonesia saja. ketika berpuluh- puluh juta manusia yang bekerja dan bertempat tinggal di kota- kota besar berduyun- duyun pulang ke daerah asalnya untuk merayakan hari besar keagamaan semisal Idul Fitri. Mungkin, masyarakat di negara- negara lainpun mengenal istilah “pulang kampung” pada waktu perayaan hari- hari besar agama, tapi itu tak sefenomenal dengan apa yang terjadi indonesia dimana pulang kampung adalah hal yang sifatnya wajib di lakukan meskipun harus mengorbankan diri berdesak- desakan di terminal- terminal, statsiun- statsiun KA, pelabuhan- pelabuhan, bandara, ataupun menempuh jalan darat yang beratus bahkan beribu Kilometer jauhnya dengan kendaraan pribadi dan menghadapi resiko kemungkinan kecelakaan. Pada perayaan Idul fitri tahun ini saja tercatat sebanyak ratusan juta orang melakukan mudik, dengan korban jiwa akibat kecelakaan sebanyak 700  orang lebih (ini hampir seperti bencana alam!), belum termasuk korban luka- luka dan korban akibat tindakan kriminal.
Memang, mudik memiliki memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Indonesia maupun bagi pemerintah. Tali silaturahmi yang sempat terputus akibat jauhnya jarak antara anggota keluarga yang berlainan domisili tersambung kembali dengan adanya mudik. Bagi pemerintah, mudik memiliki keuntungan dari segi ekonomi, karena perputaran uang yang sebelumnya terpusat di kota- kota besar menjadi tersalurkan ke daerah- daerah. Menurut data statistik, tahun ini sepanjang mudik lebaran sebanyak puluhan Triliun Rupiah mengalir ke daerah- daerah, itu berarti seharusnya daerah-pun menikmati manfaat dari mudik ini.
Indonesia adalah negara yang aneh, terutama dalam soal merayakan sesuatu, minimal menurut kacamata saya. Di Arab Saudi dan negara- negara Arab lainnya dimana Islam lahir pertama kalinya sebagai agama pembawa cahaya dan menganjurkan kesederhanaan, tidak di kenal tradisi mudik atau membeli baju- baju baru pada perayaan idul fitri, tapi ini adalah soal tradisi dan bukan di sini tempat untuk membahas persoalan itu. Kembali ke Indonesia, sebuah negara yang sedang berkembang dan entah kapan akan maju (lol!) dimana perekonomian dan pembangunan terpusat di kota- kota besar saja, dimana sebagian besar penduduknya adalah dari golongan menengah ke bawah, dan memiliki pemerintahan yang kacau balau. Penduduk di daerah yang haus akan kemajuan dan peningkatan taraf hidup tidak melihat jalan lain kecuali keluar dari daerahnya dan mengadu nasib atau mengais rezeki di kota- kota besar yang tentu saja (menurut pemikiran sebagian besar orang Indonesia) menawarkan kesempatan dan peluang yang lebih besar. Sayangnya, optimisme itu tidak di barengi dengan keahlian bekerja, sehingga kemudian para pencari kerja itu tidak mendapatkan pekerjaan di bidang formal, melainkan hanya di bidang informal saja seperti: pembantu rumah tangga, pelayan, tukang parkir, bahkan banyak yang harus puas dengan hanya menjadi pengemis atau pengamen hingga menimbulkan masalah baru dan membuat orang- orang Satpol pp mempunyai alasan untuk bekerja (razia gepeng, pengamen, waria, dll).
Selain manfaat- manfaat di atas, tradisi mudik memiliki akibat- akibat tertentu pada penduduk di daerah, dalam tulisan ini saya mencoba menghubungkan tradisi mudik dengan fenomena urbanisasi, modernisasi/ westernisasi gaya hidup, dan pergeseran nilai- nilai moral yang di anut dan menjadi ciri daripada masyarakat Indonesia.
Mereka yang hidup lama di kota- kota besar dan sudah “terkontaminasi”  budayanya ketika pulang ke kampung halamannya, turut membawa serta gaya hidup “modern” yang kemudian di tiru oleh penduduk setempat terutama generasi muda-nya, sekarang bukan hal aneh jika pemuda- pemuda di desa- desa mengenakan anting- anting seperti perempuan, atau tubuh yang bertato dan para remaja mengenakan pakaian produk barat seperti tank top atau rok mini, sekarang lebih mudah menemukan kaum muda yang nongkrong di jalanan, di rental Playstation, atau warnet daripada di mushola- mushola atau di langgar- langgar, mereka lebih suka nongkrong daripada mengajar ngaji, atau nge-band daripada sholat (saya merasakannya juga, hehe), para penduduk desa (terutama generasi mudanya) mulai berbicara dalam bahasa kota (elu, gue, dll). Pendeknya, budaya kota sudah merangsek sampai ke pelosok- pelosok kampung dan sedikit demi sedikit menyudutkan budaya dan norma- norma yang dulu sangat dihormati dan dipegang teguh generasi demi generasi dan menjadi ciri daripada apa yang dikenal sebagai “budaya orang Indonesia”. Memang, modernisasi tak selamanya bersifat negatif, Iapun turut menyumbangkan manfaat- manfaat yang besar bagi kemajuan kehidupan masyarakat pedesaan, contohnya: pembangunan sistem irigasi modern bagi pertanian, sistem komunikasi dan sarana transportasi yang semakin lancar kini dapat dinikmati dengan mudah oleh masyarakat pedesaan. Tapi dalam soal budaya, jelas sekali terlihat budaya- budaya (yang notabene berasal dari barat) berperan sangat besar dalam penghancuran moral generasi muda. dalam tahun- tahun 60- 70-an (menurut cerita- cerita dari orang- orang tua) bung karno (BK), presiden RI saat itu, menjalankan kebijakan yang menurut kaum intelektualitas penganut faham "kebebasan" (termasuk soe hok gie) tidaklah masuk akal dan mencederai hak asasi manusia, contohnya keputusan BK untuk melarang buku2 dari amerika serikat dan melarang musik- musik barat beredar di Indonesia, saya juga setuju dengan mereka. Tapi terlepas dari kepentingan- kepentingan politik yang membuat BK membuat kebijaksanaan seperti itu, saya melihat sisi lainnya yaitu kepentingan budaya. setelah soeharto menjadi presiden budaya- budaya dari barat dengan deras mengalir ke Indonesia, negara yang sebagian besar penduduknya masih lugu ini menerima gempuran budaya yang tidak tertahankan, orang- orang mulai mengenal rok mini, musik- musik rock, clubbing, tatto, berjenis- jenis narkotika, film- film yang penuh adegan seks dan kekerasan, dll (bayangkan sendiri deh sekarang akibat- akibatnya) budaya- budaya tersebut menggusur budaya- budaya lokal yang menjadi ciri dari budaya timur, sekarang kita akan sedikit kesulitan untuk mencari orang yang bisa ngawih, memainkan gamelan, calung, suling, dll, kecuali di tempat- tempat tertentu seperti tempat pariwisata atau kota- kota budaya semisal Sumedang, Jogjakarta, atau Bali.
Dalam bidang moral dampak yang terjadi jauh lebih mengerikan lagi, kriminalitas meningkat tajam, seks bebas adalah suatu hal yang 'lumrah' dikalangan anak muda, penyalahgunaan narkotika, penyakit- penyakit seks semisal AIDS merajalela (Indonesia adalah salah satu negara dengan penderita HIV/AIDS terbesar di dunia), dan 'Budaya Malu' yang menjadi ciri khas budaya Indonesia seakan hilang.

(segitu aja dulu, pegel euy)

4.16.2011

Facebook: begitu murahnya harga sebuah privasi

(Welcome screen facebook)

Facebook, siapa yang tak kenal jejaring sosial yang satu ini? ratusan juta atau mungkin milyaran penduduk Bumi mengaksesnya. dari kaum muda sampai orang tua, orang biasa sampai para professional, penduduk kota- kota besar sampai ke pelosok- pelosok desa, semua mengenal dan sebagian besar mengaksesnya setiap hari, bahkan boleh di bilang facebook adalah sebuah kebutuhan yang mutlak diperlukan (?) sekarang ini.
Facebook sendiri pertama kali di ciptakan oleh seorang mahasiswa Universitas Harvard keturunan yahudi bernama Mark Zuckerberg. Pada awalnya ia membuat sebuah program bernama program couresematch yang memungkinkan mahasiswa di kelas yang sama bisa melihat daftar teman mereka. selanjutnya couresematch dikembangkan menjadi facemach.com yang kemudian membuatnya dianggap melanggar privasi di internet oleh badan administrasi Harvard. Oleh karena itulah, maka pada 2004 ia membuat program jejaring yang kemudian terkenal ke seluruh pelosok dunia dengan nama 'Facebook', dan pada 27 Februari 2006 ia mengijinkan facebook di gunakan oleh umum. Keberhasilannya membuat perusahaan komputer raksasa Microsoft meliriknya dan menanamkan sahamnya. Dalam waktu yang relatif singkat, facebook menyebar ke berbagai belahan dunia dan mengalahkan pesaing pesaingnya seperti 'Friendster' dan (kemudian) 'Twitter', Mark-pun serta merta menjadi seorang milyarder yang terkenal.
Kembali kepada masa sekarang, ketika facebook sudah seperti virus yang mewabah ke seluruh penjuru dunia, dalam hal ini saya ingin menyoroti perannya dalam menghancurkan (atau paling tidak mengurangi) nilai privasi manusia yang menggunakannya. Tidak dapat dipungkiri (karena saya pun notabene adalah seorang pengguna facebook), privasi atau rahasia yang dulu (sebelum adanya facebook, friendster, atau twitter) begitu berharga, sekarang menjadi tanpa arti karena ucapan ucapan atau rahasia rahasia para penggunanya dapat di lihat oleh 'teman-temannya' di facebook, meskipun facebook menyediakan beberapa opsi untuk menyembunyikan setiap tulisan atau data- data penggunanya, tetapi kemunculannya juga ikut merubah mental sebagian dari mereka. Para pengguna facebook seakan- akan dengan sadar dan merasa senang jika rahasia kehidupan pribadinya di ketahui publik dan dikomentari oleh orang- orang yang tidak mereka kenal di dunia nyata.
(Mark Zuckerberg, si pencipta facebook)

Dulu, sebelum orang- orang mengenal jejaring sosial, kehidupan pribadi adalah hak pribadi yang berharga, hanya orang- orang tertentu yang dapat mengetahuinya. Urusan asmara, rahasia kehidupan rumah tangga, atau masalah seks merupakan sesuatu yang sangat berharga. sekarang, dengan facebook seolah- olah semua itu tak ada harganya sama sekali karena semua orang dapat mengetahuinya bahkan berkomentar! memang, tidak semua pengguna facebook mengijinkan tulisan atau data- data mereka di ketahui oleh sembarang orang, tapi menurut yang saya ketahui sebagian lainnya malah secara sadar menuliskan apa yang dulunya begitu berharga (baca: privasi) di ketahui khalayak umum dan mengijinkan mereka mengomentarinya, Bukankah itu sebuah penurunan harga sebuah Privasi? menurut saya: YA!....... (BERSAMBUNG...)