12.15.2014

untitled


Jam dinding yang tergantung di tembok kamar kontrakan yang aku tinggali menunjukan pukul 11.30 malam dan aku sendiri terpaku menatap layar monitor komputer di hadapanku, lampu kamar kubiarkan padam dan kuganti dengan lampu belajar yang redup warisan dari kakak. Lagu-lagu Iwan Fals yang ku-stel mengalun mengisi kelengangan suasana, menemani asap yang mengepul dari sebatang rokok kretek dan sahabat sejatinya: secangkir kopi hitam kental yang menunggu untuk kuhirup. Entahlah, tetapi suasana seperti inilah yang membuatku merasa menikmati kedamaian di tengah segala kegalauan hati dan perasaan muak yang tidak tertahankan, muak pada segalanya bahkan rasa muak pada diriku sendiri. Suasana seperti ini pula yang membantuku untuk sejenak mengundurkan diri dari hiruk pikuk kehidupan yang kurasakan selalu dan terasa semakin menyudutkanku ke pojok yang paling sempit, pengap, dan gelap.
Sejenak kedamaianku terganggu. Terdengar suara pintu kamarku diketuk dari luar, seorang teman datang untuk meminjam  jaketku, kelihatannya ia mau pergi dan aku tahu kemana orang macam dia pergi menghabiskan malam; dugem di diskotik, atau menghabiskan waktu dengan mabuk dijalanan, suatu hal yang pernah aku jalani dulu. Ah, aku tak peduli. kuberikan jaketku dengan cepat dan segera ku usir dia keluar kamar. Aku mengutuknya dalam hati, seolah dia tidak tahu bahwa aku sedang menikmati damainya suasana.
Sementara itu Iwan masih mengalunkan lagu – lagunya, kumatikan api rokok diatas asbak, aku berbaring dan pikiranku kembali menerawang. Langit- langit kamar yang kupandangi lama kelamaan pudar berganti dengan bayang- bayang perjalanan hidupku yang kini aku kutuk, kemudian muncul wajah ayah dan ibu yang selalu menyayangiku walaupun kesalahan- kesalahan yang aku lakukan pada mereka sungguh tak termaafkan. Sungguh, kasih sayang yang mereka berikan tak pernah berkurang. Mungkin semua orang tua akan bersikap sama seperti mereka. Anak yang dulu lahir dari buah cinta kasih mereka, anak yang mereka besarkan dengan segenap kasih sayang dan cinta yang suci, anak yang mereka banggakan, dimana mereka gantungkan harapannya. Harapan yang sebenarnya bukan untuk mereka, melainkan untuk kebahagiaan si anak sendiri.  perlahan kuusap pipiku yang tiba- tiba terasa hangat oleh air mataku yang menetes. Aku merasa menjadi seorang pengkhianat yang kejam, aku merasa seperti malin kundang, aku merasa seperti anak paling durhaka di muka bumi.
“maafkan aku ibu, ayah” bibirku bergumam tanpa kusadari. Air mata yang sudah lama tak kukeluarkan tiba- tiba mengalir tanpa bisa kubendung, lagi, ku kutuk diriku yang cengeng. “Aku seorang lelaki, tak patut mengeluarkan air mata!” aku mengutuk diri sendir. tapi semakin ku tahan semakin deras pula air asin yang mengalir dari mataku. Akhirnya aku menyerah, kubiarkan diriku terisak di tengah malam buta. Aku tak peduli seandainya saat ini orang lain mendengar dan melihatku menangis seperti bayi dan aku tak peduli jika kemudian mereka menertawakanku. Lama aku menangisi diri sendiri ketika akhirnya air mataku surut. Kuambil sebatang kretek dan kusulut, merahnya bara api tertutup oleh asap yang bergumpal, aku terbatuk. Tanganku bergerak menggapai cangkir kopi dan kuhirup isinya perlahan, pahitnya kopi berbaur dengan pengapnya udara kamar. Kurebahkan tubuhku kembali menatap langit kamar, jam dinding menunjukkan padaku bahwa hari telah larut dan tanpa terasa aku pun tertidur di lantai kamar yang dingin…

Bersambung.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar