Baiklah saya jujur kalau saya sendiri bukan seorang mahasiswa atau pribadi yang Islami (sudah saya katakan saya masuk kampus ini bukan atas kemauan saya sendiri), tetapi saya tidak buta atau tidak cukup bodoh untuk menilai, merasakan, atau membedakan mana universitas islam dan mana universitas sekular. Dan dengan sedih saya katakan universitas saya jauh dari layak untuk menyandang nama “Islam”, bagaimana tidak? Jika anda pernah masuk atau setidaknya melihat kampus saya, anda akan melihat di sana: mahasiswi dengan jeans ketat, dengan rambut tanpa hijab, atau dengan hijab tapi dengan jeans ketat (perpaduan yang aneh), atau mengenakan tank top. Bagaimana dengan mahasiswanya? Maafkan, bukannya memojokkan kaum perempuan tapi busana lelaki yang saya tahu hanya itu2 saja, pendeknya tak ada masalah, kecuali segelintir kecil dari mereka (pernah suatu kali saya melihat seorang mahasiswa memakai kaos yang dipotong lengannya, hahaha dan itu membuat saya terpingkal- pingkal didepan matanya). Jika masuk waktu shalat, jangan harap anda akan melihat jamaah berduyun- duyun menghentikan aktivitasnya untuk shalat berjamaah di masjid kampus (masjid kampus saya besar dan mampu menampung mungkin seribu jamaah), para dosen hanya akan menghentikan proses belajar sampai adzan lewat, dan sebagian besar mahasiswanya cuek- cuek sajah; makan, ngobrol- ngobrol bahkan cekikikan didepan atau di tangga dekat masjid, MENYEDIHKAN!
Ilmu-ilmu islam yang diberikan-pun sama menyedihkannya, kecuali adanya pesantren wajib yang diikuti oleh
mahasiswa- mahasiswa baru dan syarat bagi mereka yang mau menyusun skripsi. Sepanjang yang saya ketahui, Mata kuliah islam diberikan hanya 1 (satu) mata kuliah per satu (1) semester, itupun hanya 1 sks. Wahai, bagaimana kampus seperti ini masih saja berani (LANCANG! Lebih tepatnya) menyandang nama Islam? Jika bukan karena masih adanya fakultas- fakultas yang mempelajari Ilmu- ilmu Islam seperti: tarbiyah, Usluhuddin, dll, maka akan hilanglah semua bekas keislaman dari universitas ini.
Lalu, apakah para civitas academica, terlebih Rektor, para pengurus yayasan pendidikan islam, mau memperbaiki keadaan ini? Kalau tidak, lebih baik tanggalkan saja nama Islam dari nama universitas ini, itu lebih baik (hal ini pernah saya dengar dulu dari para dosen).
Ini hanya tulisan ungkapan kekecewaan saya terhadap universitas yang katanya menyandang misi mencetak para Mujahid, Mujtahid, dan Mujadid.
(ket: tulisan ini belum sempat direvisi).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar